Nerassuara.com – Literasi baca tulis sering kali dipahami sebagai kemampuan dasar yang harus dikuasai setiap anak ketika memasuki sekolah dasar. Namun, proses untuk sampai pada kemampuan tersebut tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada anak yang dengan cepat mengenali huruf, merangkai suku kata, membaca kata, kemudian memahami kalimat. Ada pula yang masih membutuhkan pendampingan, pengulangan, dan pengalaman belajar yang lebih konkret serta menyenangkan.
Berangkat dari sinilah inovasi dalam pembelajaran literasi menjadi penting. Literasi tidak cukup hanya disampaikan sebagai kegiatan membaca buku atau menyalin tulisan. Bagi anak-anak di kelas rendah, proses belajar perlu menghadirkan pengalaman yang membuat mereka tertarik untuk mencoba, berani melakukan kesalahan, dan kembali mencoba.
Gagasan tersebut menjadi salah satu latar belakang hadirnya Smart Literacy Adventure Box, sebuah media pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan budaya literasi melalui aktivitas membaca, menulis, permainan, tantangan, komunikasi, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Media ini dikembangkan secara berlevel agar aktivitas literasi dapat disesuaikan dengan kemampuan awal peserta didik.
Gagasan itu kemudian diperkenalkan secara langsung dalam Workshop Smart Literacy Adventure Box yang dilaksanakan pada Selasa, 22 September 2026 di SDN Gadang 2 Malang. Kegiatan tersebut diikuti oleh 33 peserta dan menjadi salah satu tahapan penting dalam pelaksanaan Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan mahasiswa PPG PGSD Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Kegiatan dibuka oleh Dosen Pengampu Mata Kuliah Proyek Kepemimpinan, Ibu Dr. Sri Rahayu, M.Pd. Pembukaan tersebut sekaligus menjadi awal dari rangkaian kegiatan yang tidak hanya berisi pemaparan materi, tetapi juga mengajak peserta mengenal dan mencoba secara langsung media Smart Literacy Adventure Box.
Workshop dimulai dengan penyampaian materi pertama dengan tema “Literasi Baca Tulis di Sekolah Dasar” oleh Dr. Sri Rahayu, M.Pd. Materi ini menjadi pijakan untuk melihat kembali pentingnya kemampuan baca tulis sebagai bagian dari proses pendidikan di sekolah dasar.
Literasi baca tulis bukan sekadar kemampuan mengenali simbol atau menghasilkan tulisan. Di dalam prosesnya terdapat kebutuhan untuk memahami informasi, mengomunikasikan gagasan, serta membangun kebiasaan belajar. Karena itu, penguatan literasi pada jenjang sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai “Budaya Literasi di Sekolah Dasar yang Inovatif.” oleh Dr. Farida Nur Kumala, M.Pd. Pada bagian ini, literasi ditempatkan bukan hanya sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai budaya yang perlu dibangun secara konsisten di lingkungan sekolah.
Budaya literasi membutuhkan ruang untuk tumbuh. Anak perlu memiliki kesempatan untuk membaca, menulis, bermain dengan kata, berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan menemukan bahwa aktivitas literasi dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan. Karena itu, inovasi media pembelajaran dapat menjadi salah satu jalan untuk membuat kegiatan literasi lebih dekat dengan dunia anak.

Setelah mendapatkan penguatan mengenai literasi dan budaya literasi, peserta kemudian memasuki bagian yang menjadi salah satu inti workshop, yaitu “Pengenalan dan Simulasi Penggunaan Smart Literacy Adventure Box yang dipandu oleh rekan-rekan mahasiswa PPG PGSD 4C Universitas PGRI Kanjuruhan Malang..”
Smart Literacy Adventure Box tidak dirancang sebagai satu aktivitas yang sama untuk semua anak. Media ini menggunakan sistem kegiatan berlevel, mulai dari Pra-Level hingga Level 4. Tahapan tersebut memungkinkan aktivitas disesuaikan dengan kesiapan dan kemampuan literasi peserta didik.
Di dalamnya terdapat berbagai komponen yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih variatif, seperti flashcard, spin wheel, QR/Barcode Sound, media menulis, Monopoly Literasi, kartu tantangan dan kesempatan, buku literasi lingkungan, Eco Literacy Tree, QR Code, hingga Gimkit.
Pada sesi simulasi, para peserta tidak hanya melihat bagaimana media tersebut digunakan. Mereka juga mencoba secara langsung aktivitas yang terdapat dalam Smart Literacy Adventure Box. Suasana workshop pun menjadi lebih interaktif. Peserta menunjukkan antusiasme ketika mencoba berbagai bagian dari media dan mengikuti simulasi penggunaannya.
Antusiasme tersebut menjadi bagian penting dari workshop. Sebab, sebuah media pembelajaran pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai bentuk atau kelengkapan komponennya. Media perlu dapat digunakan, dipahami, dan dihidupkan melalui interaksi antara guru dan peserta didik.
Smart Literacy Adventure Box sendiri membawa tiga gagasan utama, yaitu “Literasi Seru, Peduli Bumi, dan Berani Berbagi.” Ketiganya menjadi bagian dari upaya untuk menghubungkan kemampuan literasi dengan pengalaman belajar yang lebih luas.
Namun, workshop tersebut tidak dimaksudkan sebagai titik akhir. Justru setelah kegiatan selesai, pekerjaan yang lebih penting dimulai: bagaimana media yang telah diperkenalkan dapat benar-benar digunakan untuk mendampingi anak-anak yang membutuhkan dukungan dalam kemampuan baca tulis.
Rencana tindak lanjutnya adalah mengimplementasikan Smart Literacy Adventure Box kepada siswa kelas 1, 2, dan 3 yang belum tuntas dalam kemampuan baca tulis. Dengan demikian, workshop menjadi jembatan antara gagasan dan praktik, antara media yang dirancang dan kebutuhan nyata peserta didik di sekolah.

Harapan Yulianti Farida, M.Pd., selaku Ketua Panitia Proyek Kepemimpinan, keberlanjutan menjadi salah satu harapan utama dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa workshop dan media yang dikembangkan tidak semestinya berhenti sebagai bagian dari kewajiban akademik.
“Harapannya workshop dan Smart Literacy Adventure Box ini bukan hanya sekadar pemenuhan tugas mata kuliah Proyek Kepemimpinan, tetapi memberikan dampak berkelanjutan bagi sekolah dan peserta didik.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan menjadi bagian penting dari arah proyek. Workshop bukan tujuan akhir, melainkan tahap awal sebelum media diterapkan kepada peserta didik yang membutuhkan pendampingan dalam kemampuan baca tulis.
Harapan itu penting karena membangun budaya literasi tidak dapat diselesaikan dalam satu kegiatan. Satu workshop mungkin hanya berlangsung dalam satu hari, tetapi budaya yang ingin dibangun membutuhkan praktik yang berulang, pendampingan, evaluasi, dan kemauan untuk terus mengembangkan pembelajaran.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah inovasi literasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa menarik sebuah kotak media atau seberapa lengkap aktivitas di dalamnya. Ukurannya terletak pada apa yang terjadi setelah kotak itu dibuka: apakah anak menjadi lebih berani membaca, lebih percaya diri menulis, lebih tertarik belajar, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuannya.
Dari sebuah workshop dan simulasi diarahkan menuju pengalaman belajar yang nyata. Dan dari sebuah proyek, muncul harapan agar literasi dapat tumbuh menjadi budaya yang terus hidup di sekolah.



Tinggalkan Balasan