Negara Pelayan

Nerassuara.com – Kira-kira, bagaimana kalau sebuah negara atau apapun lah itu, dikelola seperti sebuah perusahaan. Pasti, semua harus dihitung, berapa keuntungan yang diperoleh, berapa banyak investasi yang masuk, berapa besar pertumbuhan ekonomi, dan seberapa cepat pembangunan menghasilkan uang. 

Di atas kertas, semuanya mungkin terlihat masuk akal. Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan yaitu negara bukan perusahaan, dan rakyat bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.

Ketika menyimak gagasan Cak Nun tentang cara negara dikelola, kita dapat melihat bagaimana kritiknya justru mengarah  bukan sekadar soal siapa yang sedang berkuasa, tetapi bagaimana cara kita memahami negara itu sendiri. Apakah negara hanya alat untuk mengatur ekonomi dan mengejar pertumbuhan, ataukah negara memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar terhadap kehidupan manusia?

Sebab ketika ukuran keberhasilan negara terlalu banyak ditentukan oleh angka, kita bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.

Kemiskinan berubah menjadi persentase. Pengangguran menjadi statistik. Tanah menjadi aset. Hutan menjadi komoditas. Pendidikan menjadi investasi. Bahkan manusia perlahan dapat dilihat terutama dari seberapa besar manfaat ekonominya.

Perusahaan memang membutuhkan keuntungan agar dapat bertahan. Negara berbeda. Negara dibangun untuk melindungi dan melayani warga. Negara memiliki kewajiban menjaga hukum, menyediakan pendidikan, membangun fasilitas publik, melindungi masyarakat yang lemah, serta memastikan sumber daya yang dimiliki bersama memberikan manfaat bagi kehidupan rakyat.

Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari gedung yang berdiri, jalan yang terbangun, atau angka pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Lantas siapa yang menikmati hasil pembangunan tersebut?

Jika ekonomi tumbuh tetapi sebagian masyarakat tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan, pendidikan, tempat tinggal, atau pelayanan kesehatan yang layak, maka kita perlu bertanya lebih jauh tentang arti keberhasilan itu.

Bukan berarti ekonomi tidak penting. Justru ekonomi sangat penting. Negara membutuhkan investasi, industri, perdagangan, teknologi, dan pengelolaan keuangan yang sehat. Tanpa itu semua, pembangunan akan sulit berjalan.

Namun, ekonomi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kehidupan manusia, bukan sebaliknya.

Inilah perbedaan mendasar antara perusahaan dan negara. Perusahaan mengejar keuntungan. Negara mengejar kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat. 

Perusahaan dapat memilih pasar yang paling menguntungkan. Negara tidak boleh memilih hanya warga yang menguntungkan. Negara harus hadir bahkan bagi mereka yang miskin, terpencil, tidak berdaya, dan tidak memiliki kekuatan untuk menuntut haknya.

Karena itu, persoalan sebenarnya mungkin bukan apakah pemerintah boleh menggunakan cara berpikir yang efisien seperti perusahaan. Tentu saja boleh. Negara membutuhkan profesionalisme dan manajemen yang baik.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai logika bisnis mengambil alih seluruh logika kehidupan bernegara.

Ketika segala sesuatu dinilai berdasarkan keuntungan, maka sesuatu yang tidak menghasilkan uang akan mudah dianggap tidak penting. 

Padahal banyak hal dalam kehidupan ini justru tidak bisa dihitung dengan uang, seperti keadilan, kebersamaan, kebudayaan, pendidikan, rasa aman, martabat manusia, dan kesempatan untuk hidup dengan layak.

Dan kritik ini tidak berhenti pada perdebatan tentang pemerintah atau tokoh tertentu. Kritik ini adalah bagian dari suara lirih yang perlu menjadi bahan untuk bercermin.

Lalu untuk apa kekuasaan diberikan? Untuk apa pajak dikumpulkan? Untuk apa sumber daya alam dikelola? Dan untuk siapa pembangunan dilakukan?

Sebab negara pada dasarnya bukan gedung pemerintahan, bukan kumpulan angka dalam laporan ekonomi, dan bukan pula milik orang-orang yang sedang memegang jabatan. Negara adalah rumah bersama.

Dan sebuah rumah bersama tidak seharusnya hanya dibuat megah dari luar. Ia harus membuat orang-orang yang tinggal di dalamnya merasa aman, dihargai, dan memiliki masa depan.

Lantas, apakah yang sedang kita bangun saat ini sebenarnya sebuah mesin ekonomi, atau sebuah kehidupan yang lebih manusiawi?

Adminteras
Author: Adminteras

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *