Oleh Omar Hassan
Tanggal 1 Oktober bukan lagi sekadar angka di kalender. Ia, bagi Aremania dan Aremanita, telah menjelma menjadi luka yang membeku. Sebuah ruang sunyi tempat kita menaruh duka yang tak pernah benar-benar selesai.
Empat tahun sudah berlalu sejak malam itu—ketika Stadion Kanjuruhan yang seharusnya menjadi rumah bagi euforia, justru berubah menjadi medan kehilangan. Skor 2-3 antara Arema FC dan Persebaya seharusnya hanya catatan biasa dalam sejarah Liga 1.
Namun takdir menuliskan babak yang jauh lebih kelam: 135 nyawa melayang, bukan karena kekalahan, melainkan karena sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada di dalam stadion—gas air mata, pintu yang terkunci, dan tangga yang seolah meminta tumbal.
Saat saya menuliskan ini, tiga hari sebelum 1 Oktober 2026, saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang kehilangan anaknya malam itu. Atau seorang sahabat yang masih menyimpan tiket pertandingan di dompetnya, tak pernah tega membuangnya. Atau seorang anak kecil yang kini beranjak remaja, tumbuh tanpa sosok yang dulu mengajaknya menonton bola. Bagi mereka, waktu tidak menyembuhkan apa pun. Waktu hanya mengajarkan cara bertahan.
Maka apa artinya mengenang? Apakah cukup dengan hening cipta satu menit sebelum pertandingan? Apakah cukup dengan taburan bunga di depan gerbang stadion yang kini sunyi? Tentu tidak.
Mengenang Kanjuruhan berarti berani jujur pada diri sendiri. Jujur untuk bisa menjawab, apakah kita sudah belajar? Apakah rekomendasi Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) dan Komnas HAM benar-benar dijalankan, atau hanya menjadi tumpukan dokumen yang berdebu di rak-rak birokrasi? Apakah pintu darurat kini selalu terbuka? Apakah steward benar-benar terlatih? Apakah gas air mata benar-benar dilarang di dalam stadion, sebagaimana standar keselamatan sepak bola dunia? Jika jawabannya masih abu-abu, maka kita sedang gagal menghormati mereka yang telah pergi.
Saya membayangkan peringatan 1 Oktober 2026 tidak sekadar menjadi seremoni tahunan. Saya membayangkan semua pertandingan di Indonesia pada pekan itu digelar dengan pita hitam di lengan para pemain. Saya membayangkan tribun-tribun stadion dipenuhi spanduk yang menuliskan 135 nama, bukan sekadar angka. Saya membayangkan keluarga korban duduk di kursi kehormatan, bukan di pinggiran. Karena mereka adalah alasan mengapa kita berkumpul—bukan untuk mencari panggung, tetapi untuk menundukkan kepala.
Namun, hal itu terasa sulit. Bisa jadi, masih ada bagi sebagian orang yang menyangsikan untuk kenangan ini. Padahal, mengenang juga berarti bergerak. Kanjuruhan mengajarkan bahwa sepak bola bukan hanya tentang gol dan kemenangan.
Ia tentang manusia—suporter yang datang dengan harapan, pemain yang berlari dengan mimpi, dan aparat yang seharusnya melindungi, bukan menyerang. Maka reformasi sepak bola Indonesia harus terus dikawal. Suporter perlu dilibatkan dalam dialog, bukan dihadapi dengan tameng dan gas.
Klub perlu membangun budaya keselamatan, bukan sekadar mengejar tiket terjual. PSSI dan PT LIB perlu memastikan regulasi bukan sekadar tulisan, tetapi praktik harian. Dan negara harus hadir bukan hanya saat tragedi, tetapi jauh sebelum dan lama sesudahnya.

Empat tahun mungkin terdengar lama bagi mereka yang tidak kehilangan. Tetapi bagi keluarga korban, empat tahun adalah empat kali ulang tahun yang kosong, empat kali Lebaran tanpa pelukan, empat kali libur panjang tanpa tawa. Maka cara terbaik menghormati mereka bukan dengan pidato, melainkan dengan janji yang ditepati. Bukan dengan air mata, melainkan dengan sistem yang berubah.
Saya percaya, sebuah bangsa bisa diukur dari cara ia memperlakukan dukanya. Apakah ia mengubur luka begitu saja, atau ia menjadikannya pelajaran. Kanjuruhan adalah cermin. Ia memantulkan betapa rapuhnya tata kelola sepak bola kita, betapa mudahnya nyawa menjadi angka, dan betapa seringnya kita lupa bahwa di balik jersey dan tribun, ada manusia yang ingin pulang dengan selamat.
Maka pada 1 Oktober 2026 ini, mari kita berhenti sejenak. Bukan hanya untuk mengenang, tetapi untuk berjanji. Bahwa tidak akan ada lagi stadion yang berubah menjadi kuburan. Tidak akan ada lagi pintu yang terkunci saat orang-orang berlari mencari udara. Tidak akan ada lagi gas air mata di dalam rumah tempat kita menonton bola. Tidak akan ada lagi Kanjuruhan kedua.
Untuk 135 jiwa yang telah pergi: kami belum bisa mengembalikan kalian. Tetapi kami berjanji, selama sepak bola Indonesia masih bergulir, nama kalian akan tetap hidup dalam setiap langkah perubahan. Selamat jalan. Dan maafkan kami, yang masih harus belajar menjadi lebih baik. (*)


Tinggalkan Balasan