Silah-Silah Pancasila

Nerassuara.com – Kita hidup, butuh sarana dan pikiran yang jernih begitu kata Cak Nam. Kita hidup di negeri yang sangat fasih berbicara tentang persatuan, tetapi semakin mudah menemukan alasan untuk saling berjarak, berprasangka, berdalih dan kerap ruwet dengan urusan orang lain. Kita mengajarkan gotong royong, tetapi pada saat yang sama terbiasa melihat persoalan orang lain sebagai sesuatu yang bukan urusan kita.

Kita menjunjung keadilan, tetapi masih dapat menerima ketimpangan selama kita berada di pihak yang diuntungkan. Bahkan di ruang yang sama, kita bisa berbicara tentang kemanusiaan sambil dengan mudah merendahkan manusia lain hanya karena ia berbeda pandangan.

Persoalannya bukan bahwa Pancasila kehilangan makna. Justru sebaliknya, nilai-nilai di dalamnya masih terdengar sangat relevan dengan berbagai persoalan yang kita hadapi. Yang menjadi persoalan adalah jarak antara nilai yang kita sepakati dan kenyataan yang kita jalani. Pancasila telah menjadi sesuatu yang hampir semua orang kenal, tetapi pengenalannya belum selalu berarti penghayatan.

Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi mengetahui tidak selalu membuat kita melakukannya.

Kehidupan sosial saat ini memperlihatkan jarak tersebut dengan jelas. Perkembangan teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi hubungan yang semakin cepat tidak selalu menghasilkan pemahaman yang semakin dalam.

Media sosial mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu ruang, tetapi perbedaan sering kali justru menjadi sumber pertengkaran. Seseorang dapat dengan mudah menghakimi orang lain berdasarkan satu unggahan, satu pendapat, bahkan satu identitas yang melekat padanya. Kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk berbicara, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang sama besar untuk mendengarkan.

Dalam keadaan seperti itu, sila tentang persatuan memperoleh tantangan yang nyata. Persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan atau memaksa semua orang memiliki pandangan yang sama. Persatuan justru diuji ketika perbedaan benar-benar hadir dan kita tetap memilih untuk hidup bersama. Jika persatuan hanya berarti berkumpul dengan orang-orang yang sepemikiran, maka ia tidak lebih dari keseragaman yang diberi nama lain.

Hal yang sama terjadi pada gagasan keadilan sosial. Kita sering memahami keadilan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebijakan besar dan persoalan ekonomi, padahal pengalaman tentang adil atau tidak adil muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kesempatan memperoleh pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, bahkan kesempatan untuk didengar tidak selalu dirasakan secara sama oleh setiap orang. Karena itu, keadilan bukan hanya persoalan tentang siapa mendapatkan apa, tetapi juga tentang apakah setiap orang memiliki kesempatan yang layak untuk menentukan kehidupannya.

Pancasila tidak seharusnya dipandang sebagai jawaban yang sudah selesai, melainkan sebagai nilai yang terus diuji oleh perubahan zaman. Setiap generasi menghadapi bentuk persoalan yang berbeda. Jika dahulu tantangannya mungkin berupa perpecahan akibat perbedaan kepentingan, hari ini tantangannya dapat muncul melalui polarisasi di ruang digital, ketimpangan sosial, budaya individualisme, dan derasnya informasi yang tidak selalu diikuti kemampuan untuk memeriksanya.

Namun, realitas sosial juga tidak sepenuhnya gelap. Di tengah berbagai kontradiksi tersebut, nilai Pancasila masih dapat ditemukan dalam tindakan-tindakan yang sederhana: masyarakat yang saling membantu ketika terjadi bencana, orang-orang yang bekerja bersama tanpa mempersoalkan latar belakang, komunitas yang membuka ruang bagi kelompok berbeda, serta individu yang memilih berdialog ketika perbedaan lebih mudah diselesaikan dengan permusuhan. Tindakan-tindakan semacam itu menunjukkan bahwa Pancasila belum berhenti menjadi gagasan.

Lantas mengapa kita dapat menyetujui nilai-nilai Pancasila secara bersama-sama, tetapi masih kesulitan menerapkannya ketika nilai tersebut berbenturan dengan kepentingan, kenyamanan, atau prasangka kita sendiri?

Sebab pada akhirnya, keberadaan Pancasila dalam kehidupan sosial tidak ditentukan oleh seberapa sering kita mengucapkannya, melainkan oleh seberapa jauh nilai-nilainya memengaruhi cara kita memperlakukan orang lain, menggunakan kebebasan, menghadapi perbedaan, dan membagi keadilan.

Ngungak pancasila, agaknya yang perlu dipastikan adalah apakah kita masih memberikan tempat bagi Pancasila dalam cara kita hidup bersama.[]

Adminteras
Author: Adminteras

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *