Daya “Ngekker” Keinginan

nerassuara.com ahmad dahri

Nerassuara.com – Pertama, anda bisa memaknai kata Ngekker dengan maksud menjaga, atau dengan pembacaan kedua yang berarti membidik. Sehingga, pada pembacaan ini anda bisa memaknai dan mensubjektifikasikan sesuai dengan pemahaman anda.

Mula-mula, barangkali masalah terbesar manusia hari ini bukan karena ia terlalu sedikit memiliki sesuatu, melainkan karena takut kehilangan apa yang dimilikinya. Kita takut kehilangan pekerjaan, uang, jabatan, rumah, pasangan, pengakuan, bahkan citra diri yang telah susah payah kita bangun di hadapan orang lain. 

Kita hidup berdampingan dengan kalimat “kamu belum cukup”  yang senantiasa berkelindan dalam benak. Alhasil, kita bekerja lebih keras, membeli lebih banyak, mengejar lebih tinggi, tampil lebih sempurna, dan tanpa sadar membawa kecemasan ke mana-mana. Anehnya, semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula yang harus kita takutkan untuk kehilangan.

Lebih dari seribu tahun lalu, Al-Kindi (801-873 M) telah berhadapan dengan persoalan yang secara bentuk berbeda, tetapi substansinya terasa begitu mirip dengan kehidupan kita. Dalam Epistle on the Device for Dispelling Sorrows atau risalah alhylat lidaf’il alahzan, ia memulai pembicaraan bukan dengan memberikan obat atau kiat menghalau kesedihan, tetapi mengajak manusia memahami (tafahhama) terlebih dahulu dari mana kesedihan itu berasal. 

Baginya, kesedihan berkaitan dengan kehilangan sesuatu yang dicintai atau lantaran tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan. Persoalannya kemudian meningkat, menjadi manusia hidup di dunia yang segala sesuatu di dalamnya berubah, ada perubahan sosial yang dirasa dalam diri secara individual yang tentu terpengaruh oleh pola pikir, pola sikap dan cerminan, sementara manusia sering menginginkan sesuatu yang tidak berubah.

Kita hidup dalam zaman yang kerap memproduksi keinginan dengan sangat cepat, kemudahan yang bersifat nisbi, dan justru menjadi incaran seperti halnya model pylater untuk memenuhi keinginannya. Ini ibarat dua sisi mata uang atau dua sisi pedang yang sama-sama tajam. Di media sosial tampak memperlihatkan keberhasilan orang lain sebelum kita sempat memahami kehidupan kita sendiri. Iklan yang berjubel mengampanyekan kemudahan, bahwa kebahagiaan dapat dibeli.

Dunia kerja membuat manusia merasa bahwa pencapaian hari ini harus selalu lebih tinggi daripada kemarin. Bahkan ruang keagamaan pun tidak sepenuhnya bebas dari perubahan ini. Kesalehan kadang tampil sebagai sesuatu yang harus terlihat, diukur, dibandingkan, dan dipertontonkan. Akibatnya, manusia tidak hanya berlomba memiliki sesuatu, tetapi juga berlomba agar dirinya terlihat memiliki sesuatu.

Masalahnya bukan pada pekerjaan, kekayaan, teknologi, agama, atau keinginan itu sendiri. Semua itu dapat menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Masalah muncul ketika sesuatu yang seharusnya menjadi sarana berubah menjadi ukuran harga diri. Ketika manusia mulai percaya bahwa dirinya berharga hanya karena jabatan yang dimiliki, harta yang dikumpulkan, kelompok yang diikuti, atau pengakuan yang diterima, maka kehilangan kecil dapat terasa seperti kehancuran besar.

Al-Kindi mengingatkan bahwa banyak kesedihan justru lahir karena manusia melekatkan kebahagiaannya pada sesuatu yang berada di luar kendalinya. Ia bahkan membedakan antara sesuatu yang dapat kita upayakan dan sesuatu yang berada di luar kuasa kita. Kesedihan yang belum terjadi pun, menurutnya, tidak perlu lebih dahulu kita tanggung, karena kita dapat menyakiti diri sendiri dengan sesuatu yang mungkin saja tidak pernah terjadi.

Satu komentar belum tentu menjadi serangan, tetapi kita sudah marah. Satu kabar belum tentu menjadi kenyataan, tetapi kita sudah cemas. Seseorang belum tentu meninggalkan kita, tetapi kita sudah membayangkan kehilangan. Kita sering kali bukan hanya mengalami kenyataan, tetapi juga mengalami seribu kemungkinan yang diciptakan oleh pikiran sendiri.

Namun membaca Al-Kindi hari ini tidak berarti mengatakan bahwa semua kesedihan adalah kesalahan manusia. Tidak setiap penderitaan lahir dari ketidakmampuan mengendalikan keinginan. Kemiskinan, kehilangan pekerjaan, ketidakadilan, konflik sosial, dan berbagai bentuk penderitaan struktural memiliki sebab yang nyata di luar diri seseorang. Karena itu, filsafat tidak boleh digunakan untuk menyalahkan orang yang sedang menderita dengan mengatakan bahwa mereka hanya kurang mampu mengatur pikirannya.

Justru di situlah pembacaan terhadap Al-Kindi menjadi lebih dewasa. Kita perlu memperbaiki keadaan sosial sekaligus menata kehidupan batin. Masyarakat yang tidak adil perlu dikritik, tetapi manusia juga perlu belajar agar dirinya tidak sepenuhnya diperbudak oleh amarah, iri, dan keinginan. Al-Kindi melihat bahwa manusia harus melatih dirinya sedikit demi sedikit. Kebiasaan baik tidak muncul sekaligus; ia dibangun dari perkara kecil hingga akhirnya menjadi watak.

Mungkin karena itu, persoalan kita hari ini bukan sekadar bagaimana mendapatkan lebih banyak, tetapi bagaimana mengetahui apa yang layak dikejar.

Kita tetap boleh memiliki rumah, tetapi jangan sampai rumah memiliki seluruh ketenangan kita. Kita boleh mengejar kedudukan, tetapi jangan menyerahkan seluruh harga diri kepada jabatan. Kita boleh menggunakan media sosial, tetapi jangan membiarkan angka-angka di dalamnya menentukan nilai diri. Kita boleh mencintai dunia, tetapi harus memahami bahwa dunia tidak pernah berjanji untuk tinggal selamanya.

Al-Kindi menggunakan gambaran perjalanan dengan kapal. Ada orang yang singgah, mengambil seperlunya, lalu kembali ke kapal. Ada pula yang terlalu sibuk mengumpulkan batu, bunga, kerang, dan berbagai benda yang akhirnya justru menjadi beban ketika mereka kembali.

Hidup penuh Metafora dan Citra. Barangkali hidup kita juga seperti kapal itu. Kita terus mengumpulkan sesuatu, lalu menghabiskan hidup untuk menjaga apa yang telah kita kumpulkan. Kita mencari pengakuan, lalu menjadi tawanan pengakuan. Kita membangun citra, lalu takut citra itu runtuh. Kita mengejar kekayaan, lalu hidup dalam ketakutan kehilangan kekayaan.

Mungkin kedewasaan bukan ketika manusia berhasil memperoleh semua yang diinginkannya. Kedewasaan justru dimulai ketika ia mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan, antara cita-cita dan iri, antara kehilangan dan kehancuran. Dan di tengah zaman yang terus mengajarkan manusia untuk menginginkan lebih banyak, mengetahui apa yang cukup mungkin merupakan salah satu bentuk kebebasan yang paling sunyi.

Ahmad Dahri
Author: Ahmad Dahri

Pelayan Teras di Nerassuara.com

Avatar Ahmad Dahri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *