Navigasi ING Sunyo: Catatan Tentang Resiliensi, Akal dan Jiwa
Nerassuara.com – Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan kehidupan. Terlebih ketika yang harus dihadapi bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga perubahan keadaan ekonomi dan berbagai persoalan domestik yang datang hampir bersamaan.
Ketika kesehatan fisik perlahan menurun, ternyata ada banyak hal lain yang ikut berubah. Pilar ekonomi yang sebelumnya menjadi penyangga kehidupan mulai runtuh. Dalam keadaan demikian, bertahan hidup membutuhkan tenaga yang terkadang jauh melampaui kemampuan tubuh itu sendiri.
Ada masa ketika saya harus berusaha tampak bugar, meskipun sesungguhnya raga sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena ingin menyembunyikan keadaan, melainkan karena kehidupan tetap harus berjalan. Ada tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan dan ada orang-orang di sekitar yang tidak ingin saya buat semakin cemas.
Tetapi orang lain sering kali membaca apa yang hanya tampak olehnya, daripada memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ketika keletihan fisik semakin sulit disembunyikan, keadaan itu justru dapat dimaknai secara berbeda. Apa yang sesungguhnya merupakan keterbatasan raga terkadang dianggap sebagai kepura-puraan atau bahkan pelepasan tanggung jawab.
Titik balik terberat bukan semata ketika perpisahan itu terjadi, melainkan ketika adanya jarak dengan anak-anak ikut terbentang. Ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar ratapan atas kehilangan, tetapi juga perasaan ketika seluruh pertaruhan tenaga, waktu, dan kemampuan fisik yang telah diberikan selama bertahun-tahun seolah tidak lagi memiliki makna di mata manusia.
Namun, Alhamdulillah kehidupan selalu menyisakan ruang bagiku saat itu untuk menemukan cara lain dalam memahami diri sendiri. Di tengah keadaan itulah saya justru semakin banyak berjumpa dengan dua hal yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan hidup: ilmu pengetahuan dan spiritualitas.
Di tengah keadaan tubuh yang ringkih dan berbagai penilaian yang terkadang terasa menyudutkan dan mengasingkan, saya menemukan ruang untuk menjaga kewarasan di atas meja kerja, tempat tidur dan smartphone.
Realitas kehidupan yang tidak selalu mudah saya hadapi dengan mengalihkan sebagian energi untuk membaca dan membedah teks-teks lama. Aktivitas ilmiah sehari-hari, mulai dari membaca, mentranskripsi, hingga menganalisis serat-serat Raden Ngabehi Ranggawarsita dan manuskrip-manuskrip peninggalan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari, menjadi semacam jangkar bagi pikiran.
Kerja pembacaan ulang manuskrip dan penelitian sejarah memiliki disiplin tersendiri. Ada teks yang harus dibaca berulang kali, ada aksara yang perlu dikenali, ada varian bacaan yang harus dibandingkan, dan ada konteks sejarah yang tidak boleh dipaksakan mengikuti kehendak personal. Di hadapan manuskrip, saya tidak bisa bekerja hanya dengan perasaan. Ada fakta yang harus ditemukan, ada sumber yang perlu diuji, dan ada kesimpulan yang harus dipertanggungjawabkan.
Menariknya, disiplin semacam itu perlahan membentuk cara saya menghadapi persoalan kehidupan. Saya belajar membedakan antara fakta dan penilaian, antara kenyataan dan persepsi, antara sesuatu yang memang terjadi dengan sesuatu yang hanya dilekatkan oleh pandangan orang lain.
Tubuh yang sakit adalah kenyataan biologis. Keterbatasan fisik merupakan fakta yang harus diterima dan diupayakan pemulihannya. Sementara penilaian orang lain, betapapun kerasnya, tidak serta-merta mengubah kenyataan tersebut.
Situasi yang seperti ini, mungkin salah satu cara ilmu pengetahuan merawat kewarasan. Walau tidak selalu mampu mengubah keadaan, tetapi dapat membantu saya agar tidak kehilangan kemampuan membaca kenyataan.
Menulis Hasil Riset dengan Ruh Sastra Suluk
Apa yang saya temukan dalam lorong sejarah Tegalsari dan pemikiran Ranggawarsita ternyata tidak berhenti sebagai catatan penelitian atau laporan ilmiah. Ketika hasil pembacaan dan penelitian itu mulai saya tuangkan ke dalam draf-draf buku, saya justru menemukan jalan ekspresi yang berbeda. Ada keinginan untuk menyampaikan temuan ilmiah dengan pendekatan yang memiliki ruh sastra suluk.
Bagi saya, suluk alih alih hanya sebagai bentuk kesusastraan lama. Justru bagiku merupakan ruang perjumpaan antara kedalaman tasawuf, pengalaman kehidupan, dan keindahan bahasa simbolik. Di dalamnya, pengetahuan tidak hanya disampaikan sebagai sesuatu yang harus dimengerti, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu direnungkan dan dijalani.
Di sela-sela lembar transkripsi dan analisis manuskrip, terkadang muncul perenungan yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan melalui bahasa ilmiah.
Raga kang ringkih dudu minangka kaukuman,
Nanging papan piningit kanggo madhangi batin.
Nalika manungsa kelangan pangerten marang lara,
Gusti malah mbukak dalan tumuju sejatining rasa.
(Raga yang ringkih bukanlah sebuah hukuman, melainkan ruang penyendirian untuk menerangi batin. Ketika manusia kehilangan pemahaman atas rasa sakit, Tuhan justru membuka jalan menuju kesejatian rasa.)
Menulis dengan ruh suluk membuat penelitian sejarah menjadi lebih dari sekadar usaha merekonstruksi masa lalu. Ada ruang untuk mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman saya hari ini.
Ketika mengurai Kalatidha, misalnya, saya tidak hanya berusaha memahami pemikiran Ranggawarsita tentang zaman yang penuh ketidakpastian. Saya juga menemukan relevansinya dalam kehidupan manusia yang kerap harus bertahan di tengah keadaan yang tidak selalu dapat diprediksi.
Demikian pula ketika membaca tradisi keilmuan dan laku asketis para santri Tegalsari. Ada pelajaran tentang kesabaran, kesederhanaan, dan keteguhan dalam menjaga hubungan antara ilmu, adab, dan kehidupan.
Di sana saya menemukan kembali sebuah perenungan:
Nglacak tapak ing dluwang kuna Tegalsari,
Ketemu wewadi yen sepi dudu kahan kang kosong.
Sirna ing paningal manungsa, nyedhak marang Kang Akarya,
Ing kono jangkah kang pincang nemu pepadhang.
(Menelusuri jejak pada dluwang tua Tegalsari, menemukan rahasia bahwa sepi bukanlah kekosongan. Ketika tak lagi menjadi pusat perhatian manusia, seseorang justru dapat mendekat kepada Sang Pencipta. Di sanalah langkah yang pincang menemukan cahaya.)
Proses menulis kemudian menjadi bagian dari laku itu sendiri. Sebuah ruang uzlah, bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan mengambil jarak agar mampu melihatnya dengan lebih jernih.
Saya tidak sedang menuliskan kesedihan untuk memperoleh pengakuan. Tidak pula sedang menjadikan sejarah sebagai tempat bersembunyi dari kenyataan. Justru melalui sejarah, manuskrip, dan sastra suluk, saya belajar memahami bahwa setiap zaman memiliki kegelisahannya sendiri, sebagaimana setiap manusia memiliki jalan sunyi untuk menemukan kembali keseimbangan dirinya.
Jaring Sosial sebagai Penyelamat Nyata
Ada satu hal yang semakin terasa dalam perjalanan ini: ketulusan masa lalu terkadang memiliki jalan tersendiri untuk kembali.
Ketika kehidupanku berada pada titik paling rendah, saat “rumah” menjauh dariku yang waktu itu masjid dan jalanan swbagai naungan, kemudian kemampuan ekonomi yang praktis tidak lagi memiliki daya dukung serta kondisi fisik semakin terbatas, justru hubungan-hubungan sosial yang pernah dibangun tanpa banyak perhitungan mulai menemukan maknanya.
Teman-teman lama, sesama peneliti, sahabat dalam kerja-kerja kebudayaan, dan orang-orang yang pernah berjumpa dalam berbagai ruang pengabdian hadir dengan caranya masing-masing.
Ada yang datang menawarkan bantuan, ada yang menyediakan ruang untuk beristirahat, ada pula yang sekadar memastikan bahwa saya tidak sedang menghadapi semuanya sendirian.
Saya tidak pernah benar-benar menghitung apa yang pernah saya kepada orang lain. Sebab, ketika melakukan sesuatu dalam kehidupan sosial, saya tidak membayangkan bahwa suatu saat semuanya akan kembali dalam bentuk pertolongan.
Namun, kehidupan memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar kedekatan dan kepentingan sesaat.
Di saat kemampuan diri sedang terbatas, tangan-tangan yang terulur itu menjadi penyangga yang sangat nyata. Mereka tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga mengembalikan keyakinan bahwa keberadaan seseorang tetap memiliki arti dalam kehidupan orang lain.
Mungkin inilah salah satu makna sederhana dari merawat hubungan sosial: kita tidak pernah tahu kapan kebaikan yang pernah ditanam akan menjadi tempat seseorang menemukan tempat berteduh.
Perjalanan tujuh tahun ini bukanlah cerita tentang kekalahan. Saya lebih suka memandangnya sebagai perjalanan panjang untuk memahami kembali keseimbangan hidup. Kewarasan dan semangat yang sempat hampir padam tidak kembali melalui sebuah keajaiban yang datang tiba-tiba. Ada proses panjang yang saling berkaitan: akal yang tetap bekerja melalui pembacaan dan penelitian manuskrip, jiwa yang menemukan ruang teduh melalui perenungan dan bait-bait suluk, serta tangan-tangan manusia yang hadir dalam hubungan sosial yang tulus. Ketiganya menjadi semacam anyaman penyangga kehidupan.
Ilmu pengetahuan membantu saya menjaga kejernihan berpikir. Tasawuf mengajarkan bagaimana menerima keterbatasan tanpa harus kehilangan harapan. Sementara hubungan sosial mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan manusia lain untuk menjalani kehidupannya.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semuanya telah selesai. Tubuh masih membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya. Ada keterbatasan yang harus diterima, ada proses yang tidak dapat dipercepat, dan ada bagian kehidupan yang mungkin tidak akan pernah kembali dalam bentuk semula. Langkah kaki mungkin masih pelan, tetapi arahnya kini terasa lebih jelas.
Perjuangan untuk kembali sehat bukan lagi tentang membuktikan sesuatu kepada siapa pun. Bukan pula untuk membantah penilaian yang pernah dilekatkan kepada diri saya. Tetapi lebih pada wujud bagian dari ikhtiar merawat kehidupan dan mensyukuri kesempatan yang masih diberikan.
Dari sinilah saya menautkan catatan di setiap pos perjalananku kini; semakin jauh seseorang berjalan, maka, ia akan semakin memahami bahwa hidup bukan semata-mata tentang seberapa kuat kita bertahan, melainkan bagaimana menjaga agar akal tetap jernih, hati tidak kehilangan keluasan, dan jiwa tidak tercerabut dari kemanusiaannya.Catatan catatan inilah yang kemudian menjadikan saya ingin terus berjalan. Membaca jejak masa lalu, menuliskan apa yang dapat dipahami, merawat apa yang masih bisa dirawat, dan mengikhlaskan apa yang memang harus dilepaskan.
Sebab, tidak setiap perjalanan harus berakhir dengan kemenangan di mata manusia. Ada perjalanan yang cukup diselesaikan dengan menemukan kembali ketenteraman di hadapan-Nya.
Rebo Kliwon, 4 November 2026
Dolopo_Madiun




Post Comment